Halaman

Tampilkan postingan dengan label lingkungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lingkungan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 November 2012

Temuan Fosil Terbaru Pecahkan Rekor Penguin Terbesar

 
Palaentolog asal Argentina menemukan fosil penguin raksasa yang memiliki tinggi 2 meter. Fosil itu ditemukan di Antartika, diperkirakan hidup 34 juta tahun lalu.

"Ini adalah penguin terbesar yang diketahui berdasarkan tinggi dan ukuran massa tubuhnya," kata Caroplina Acosta, palaentolog dari Natural Sciences Museum of La Plata, seperti dikutip AFP, Rabu (21/11/2012).

Acosta mengatakan, ukuran penguin ini mengalahkan ukuran penguin emperor, penguin yang sebelumnya dianggap terbesar, punya tinggi 1,2 meter.

Marcelo Reguero, pimpinan studi ini, mengatakan bahwa penemuan fosil ini akan membantu ilmuwa meneliti lebih jauh dan kompleks tentang asal usul penguin modern.

Dalam waktu dekat, peneliti akan mengadakan ekspedisi ke Antartika untuk mencari fosil tambahan. Fosil itu berguna untuk mempelajari anatomi serta cara penguin tersebut bergerak.

Penemuan sebelumnya menunjukkan, penguin tidak memiliki warbna hitam putih tetapi berwarna merah kecoklatan dan abu-abu.

Sebuah Pulau "Menghilang" dari Permukaan Bumi

Google Map
Sebuah pulau "menghilang" dari permukaan Bumi. Hal ini disadari oleh Maria Seton, ilmuwan dari University of Sydney yang mencari keberadaan pulau tersebut dalam ekspedisi geologi.

Pulau yang "hilang" itu dalam Google Earth tampil sebagai Sandy Island, terletak di Laut Koral, di antara Australia dan Kaledonia Baru.

Pulau tersebut juga dikenali keberadaannya sebagai Sable Island dalam Times atlas of the World. Lembaga maritim Australia, Southern Surveyor, juga menyatakan pulau itu eksis.

Yang mengejutkan adalah, saat Southern Surveyor melakukan penelitian untuk mengidentifikasi fragmen daratan yang tenggelam di Laut Koral, pulau itu tak ditemukan.

"Kami ingin mengeceknya sebab navigasi di kapal menunjukkan kedalaman 1.400 meter di area tersebut, sangat dalam," kata Seton seperti sikutip AFP, Kamis (22/11/2012).

"Pulau itu ada di Google earth dan peta lain jadi kami mengeceknya dan tak menemukan apapun. Ini benar-benar teka-teki. Ini aneh. bagaimana ini ada di peta, kami tak tahu," lanjut Seton.

"Hilangnya" pulau ini banyak dibicarakan di media sosial. Seorang bernama Charlie Loyd  menunjukkan bahwa pulau ini juga ada di peta Yahoo dan Bing.

Di www.abovetopsecret.com, diskusi juga berlangsung. seseorang yang mengonfirmasi badan penelitian hidrografi Perancis mengatakan, pulau itu ialah pulau "khayalan" dan telah dihapus dari peta sejak 1979.

Google menyatakan bahwa pihaknya terbuka akan setiap respon dan siap mengintegrasikan informasi baru dari pengguna atau rekanannya ke Google Map.

"Kami bekerja dengan berbagai pihak dan sumber data komersial untuk memberikan peta yang paling kaya dan terbaru kepada pengguna," kata juru bicara Google.

Badan Hidrografi dari angkatan laut Australia menyatakan, "Salah satu yang menarik dari peta dan geografi adalah bahwa dunia ialah tempat yang terus berubah dan menyesuaikan terhadap perubahan ini adalah usaha yang tak akan pernah berakhir."

Lampu Pengubah CO2 Menjadi Listrik

Seperti diketahui, tumbuhan merupakan penyerap CO2 terbaik. Sehingga gerakan penghijauan di perkotaan menjadi penting. Sayang, daya serap ini masih kalah dengan polusi yang ditimbulkan dari asap industri dan emisi gas buang dari kendaraan. Perlu bantuan lebih agar tingkat polusi bisa dikurangi seoptimal mungkin.

Tak lama lagi, kita mungkin bisa menikmati teknologi terbaru yakni ditemukannya lampu yang bisa mengubah CO2 menjadi tenaga listrik. Adalah Pierre Calleja, biochemist asal Prancis yang berhasil menciptakan lampu yang dapat menyerap Karbondioksida di udara lebih banyak dibandingkan pohon.

 
Dalam penelitian yang dia tekuni selama kurang lebih 20 tahun itu, Calleja menggunakan microalgae atau ganggang berukuran mikro yang terdapat di sekitar danau di Louisiana, Amerika Serikat. Apabila bercampur air, maka ganggang ini akan mengubah air menjadi hijau terang.

Ganggang mikro ini dapat menghasilkan energi listrik secara alami ketika mereka melakukan fotosintesis.

"Lampu tersebut berbentuk silinder dan berisi ganggang mikro. Ganggang tersebut menyerap sinar matahari dan CO2 di udara dan mengubahnya menjadi energi listrik," jelas Calleja.

Memang sampai sekarang lampu ciptaan Calleja ini belum dikembangkan secara penuh. Namun, ketika lampu tersebut sudah teruji dan siap digunakan, dengan menempatkan lampu tersebut di sekitar jalanan yang sering dilewati kendaraan, maka sekitar 25% emisi gas buang atau kandungan Karbondioksida di udara dapat terserap.

Ketika pada waktu siang lampu tersebut berhasil menyerap CO2 dan sinar matahari, energi yang dikumpulkannya dapat juga digunakan sebagai penerangan jalan di malam hari.

Rabu, 21 November 2012

Ada Bahan Beracun di Merek Pakaian Ternama

Sejumlah merek pakaian ternama mengandung bahan kimia berbahaya bagi lingkungan. Hal ini terungkap dalam laporan investigasi terbaru Greenpeace bertajuk "Benang Beracun - Merek Fashion Ternama Terjahit Dengannya".

Investigasi Greenpeace dilakukan dengan mengambil sampel produk pakaian ternama yang beredar di 27 negara, termasuk Indonesia. Sejumlah 141 produk pakaian dikoleksi dari toko-toko resmi penjual produk tersebut selama bulan April 2012 dan diteliti di laboratorium Greenpeace di Inggris.

Hasil investigasi terbaru menemukan bahwa 20 pakaian merek ternama mengandung bahan beracun yang bisa mengganggu hormon dan menyebabkan kanker. Dari 141 produk, 89 diantaranya mengandung bahan beracun. Salah satu merek yang mengandung bahan beracun adalah Zara.

"Beberapa produk Zara yang diuji, hasilnya positif mengandung zat yang akan terurai membentuk bahan kimia penyebab kanker atau gangguan hormon," kata Martin Hijsik, Koordinator Kampanye Detox Greenpeace International.

Dari penelitian Greenpeace, salah satu produk Zara mengandung NPEs (Etoksilat polifenol) dengan konsentrasi tertinggi, mencapai 1000 ppm. Sementara, dua produk Zara lainnya memiliki kandungan pewarna azo.

Hilda Meutia, Koordinator Water Patrol Greenpeace Indonesia menjelaskan, NPEs adalah senyawa surfaktan yang pada hewan dan manusia dapat menggangu hormon. Pewarna azo akan melepaskan amines yang bisa menyebabkan kanker.

"Gangguan hormon dan kanker tidak muncul segera tetapi dalam jangka panjang. Bahan dapat masuk lewat rantai makanan," kata Hilda dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (20/11/2012). Bahan bisa masuk ke lingkungan saat pembuangan limbah ataupun saat produk dicuci.

Selain Zara, produk lain yang juga mengandung bahan beracun adalah Metersbonwe, Levi's, C & A, Mango, Calvin Klein, Jack & Jones dan Marks & Spencer. NPEs dan pewarna azo juga ada dalam produk itu, ditambah phthalates, senyawa untuk fleksibilitas dan keawetan yang bersifat karsinogenik.

Produk dari C & A, Levi's, Marks & Spencer, Mango, Jack & Jones dan Metersbonwe adalah yang mengadung konsentrasi NPEs tertinggi. Sementara, phthalates dijumpai pada produk Tommy Hilfiger, Armani dan Victoria's Secret.

Berdasarkan laporan itu, Ahmad Ashov, Jurukampanye Air Bebas Racun Greenpeace Indonesia mengatakan, "Greenpeace menuntut merek fashion untuk berkomitmen terhadap nol pembuangan terhadap bahan kimia berbahaya pada tahun 2020."

Ia menambahkan, Greenpeace juga menuntun para pemasok produk untuk mengungkapkan semua bahan kimia beracun yang dilepaskan dari fasilitas yang dimiliki kepada masyarakat di lokasi pencemaran air.

Kopi Arabika Terancam Punah dalam 70 Tahun

Studi yang dilakukan oleh ilmuwan dari Royal Botanic Gardens, Kew (Inggris); dan Ethiopia, melaporkan bahwa kopi arabika (Coffea arabica) liar terancam punah dalam 70 tahun karena perubahan iklim. Hasil studi ini dipublikasikan di jurnal PLOS ONE, Rabu (7/11/2012).

"Skenario terburuk, seperti yang didapatkan dari analisis kami, arabika liar dapat punah pada tahun 2080. Hal ini seharusnya menjadi peringatan bagi penentu kebijakan terhadap kerentanan spesies ini," kata Justin Moat, Kepala Informasi Spasial di Royal Botanic Garden, yang terlibat riset.

Kopi arabika liar penting bagi kelangsungan industri kopi karena keragaman genetik yang dimiliki. Arabika yang tumbuh di perkebunan terbilang miskin akan keragaman genetik sehingga kurang memiliki ketahanan terhadap perubahan iklim dan masalah lain, seperti hama dan penyakit.

Punahnya arabika tak cuma merugikan dalam hal keanekaragaman hayati. Kepunahan juga berdampak secara ekonomi sebab kopi merupakan komoditas perdagangan paling besar setelah minyak, dan menjadi sumber pendapatan utama bagi beberapa negara, misalnya Ethiopia.

Kesimpulan terancamnya kopi arabika didapatkan dari hasil pemodelan komputer. Data bahan pemodelan didapatkan dari museum (termasuk herbarium) dan lapangan. Ini adalah studi pertama yang mengukur dampak perubahan iklim pada kopi.

Dua analisis dilakukan dalam studi lokal dan kewilayahan. Studi dilakukan dengan membandingkan penyebaran kopi arabika saat ini dan yang diprediksikan hingga tahun 2080. Tiga interval waktu ditetapkan untuk analisis, yakni tahun 2020, 2050, dan 2080.

Hasil analisis mengungkap bahwa secara lokal, pengurangan distribusi kopi arabika secara lokal adalah 65 persen-99,7 persen. Sementara itu, hasil analisis kewilayahan menunjukkan bahwa pengurangan distribusi adalah 38 persen-90 persen.

Ancaman perubahan iklim pada kopi mungkin lebih buruk. Analisis ini belum menyertakan faktor deforestasi yang terjadi di sekitar habitat kopi arabika liar serta faktor lain, seperti hama, penyakit, perubahan waktu perbungaan, dan pengurangan populasi burung yang berfungsi sebagai penyerbuk.

Studi lapangan dalam tes pemodelan itu dilakukan di Dataran Tinggi Boma, Sudan, pada April 2012. Berdasarkan hasil pengujian, dengan menyertakan faktor deforestasi, arabika liar bisa punah pada tahun 2020. Hal itu masuk akal dengan rendahnya kualitas kesehatan arabika liar kini.

Aaron Davis, Kepala Penelitian Kopi di Royal Botanic Garden, seperti dikutip Physorg, Rabu, mengatakan, "Tujuan studi ini bukan membuat orang takut. Prediksi ini tentu memprihatinkan, tetapi kita seharusnya bisa menjadikannya sebagai dasar terhadap langkah yang diperlukan."

Foto Duka Untuk Palestina

Foto-foto serangan Israel di jalur Gaza yang sedang terjadi membuat pedih. Mungkin opsi yang baik memberi bantuan kemanusiaan. Teman-teman yang bisa memberi informasi silahkan berbagi, atau mungkin bisa melalui link ini: kispa atau mer-c